Perkenalanku dengan Adinda Mutiara Sabila sang Producer dari Ca Bau Kan Musical terjadi saat Adinda mengirimkan email ke mailing list mengenai Ca Bau Kan The Musical ini., dan aku senang bisa meliput pertunjukkan ini.

Aku selalu tertarik dengan cerita mengenai bangsa Indonesia, dan terlebih lagi cerita ini dengan judul yang berbahasa Chinese. Dalam sejarah yang aku pelajari sejak kecil, memang peran orang-orang berdarah Chinese di Indonesia juga ikut membantu membangun Indonesia. Sehingga aku ingin melihat pertunjukkan ini.

NUANSA merupakan suatu wadah seni para mahasiswa/mahasiswi Indonesia di NUS (National University of  Singapore) yang tergabung dalam PINUS (Perhimpunan Indonesia NUS). Kegiatan tahunan yang beruapa Drama Musikal dengan tujuan untuk ikut berpartisipasi dan juga memperkenalkan budaya Indonesia di NUS.
Sebagai salah seorang warga negara Indonesia, saya tentunya saya bangga dengan para mahasiswa/mahasiswi yang bisa dibilang mereka salah satu “pahlawan seni” dimana mereka meluangkan waktu dan ide, pikiran untuk menunjukkan kepada banyak orang akan kebudayaan Indonesia. Tanpa mereka sadar sebenarnya mereka sudah menjadi salah satu bagian dari promosi pariwisata Indonesia.

Ca Bau Kan,  diadaptasi dari novel Remy Sylado yang menceritakan kisah cinta antara Tan Peng Liang dan Tinung  yang cukup banyak perbedaan, dari ras, status sosial dan juga jaman penjajahan dari Belanda kemudian Jepang, membuat kisah ini menjadi suatu yang sangat unik untuk dinikmati.

Arti dari Ca Bau Kan sendiri adalah “seorang wanita” dimana dikenal sebagai wanita yang bekerja untuk menghibur para pengusaha Chinese.
Tinung merupakan janda muda yang dipaksa bekerja sebagai Ca Bau Kan di Kalijodo.
Tan Peng Liang adalah salah satu dari pengusaha muda yang bertemu dengan Tinung, dan terjadilah kisah cinta antara mereka.

Meskipun cerita ini diadaptasi, tapi team membungkus dengan lagu-lagu yang dituliskan dari NUANSA 11 ini serta juga lekukan-lekukan tarian yang mendukung acara ini  juga dari koreografer NUANSA 11, kreatifitas mereka membuat drama musikal ini sangat enak dinikmati, penataaan panggung, tata lighting serta sound system yang mendukung menjadikan satu perpaduan yang membuat mata ini terfokus serta tidak merasakan kalau pertunjukkan ini memakan waktu 2 1/2 jam.

Cerita ini berlokasi di Batavia, dengan tokoh utama Tinung sebagai Ca Bau Kan, Tinung sebagai seeorang janda yang kehilangan suaminya berusaha mengubah kesedihan dan kesendiriannya dengan menjadi penari di Kalijodo.
Di Kali jodo ini dia akhirnya bertemu dengan Tan Peng Liang seorang pengusaha yang sukses dan kaya raya, disitulah akhirnya menjadi suami istri dan mempunyai seorang anak Giok Lan.
Perselisihan dagang dengan pengusaha, kedatangan Jepang yang sadis menganiaya penduduk lokal serta kisah pengorbanan ibu serta cinta abadi kedua pasangan ini menjadikan suatu adegan yang menarik untuk dinikmati.

Kesanku sangat mendalam saat Jepang menanyakan apa arti kata Indonesia, dimana para pengusaha yang hanya memikirkan bisnis seperti Thio Boen Hiap akan menjawabnya kalau itu tidak ada artinya, sehabis Belanda kemudian diambil Jepang dan dia bilang nanti akan kembali lagi diambil Belanda, tidak adanya rasa untuk membangun dan merdekakan Indonesia

Berbeda dengan Tan Peng Liang, yang memang awalnya bisnis sukses walau dengan cara uang palsu dan kemudian membangun bisnis secara benar, tapi dia selalu mau membantu perjuangan Indonesia, katanya “untuk Indonesia aku akan selalu membantu”

Dan Kesan mendalam lainnya adalah perjuangan seorang ibu (Tinung) yang mana dia harus kembali menjadi Ca Bau Kan demi melanjutkan hidupnya, dimana dia harus merelakan Giok Lan berpisah darinya untuk mencapai kehidupan lebih baik, kita akan berkata banyak pendapat itu bukan pekerjaan yang baik, tapi kalau kita dalam waktu dan keadaan saat itu mungkin itu pilihan terbaik yang bisa dilakukan Tinung.
Dan kita yang selalu berpendapat, mungkin juga lebih harus melihat diri kita, apakah kita bisa membantu meringankan penderitaan para ibu dan kaum miskin, banyak anak-anak yang butuh pendidikan, semoga kita bisa membantu dan tidak banyak menghakimi.

Dan sebagai Giok Lan yang tetap bangga akan ibunya walau sebagai Ca Bau Kan, karena dia yang paling tahu betapa besar cinta ibunya dan mengapa ibunya tega melepaskannya

Peran yang dilakukan juga sangat baik, aku cukup terkesan dengan peran Vanessa Octavia sebagai Tinung, yg menggitu menjiwai saat menyanyikan lagu dan juga saat adegan penganiayaan oleh serdadu Jepang, ekpressi yang ditunjukkan bisa memperlihatkan bagaimana Vanessa benar-benar menjiwai perannya sebagai Tinung.
Dan juga Abram Komara sebagai Thio Boen Hiap, dia cukup berhasil mencitrakan tokoh antagonis, dan peran yang sangat dramatis saat hendak dieksekusi oleh Tan Peng Liang, dimana getaran tubuh, mimik ketakutan, semuganya membuat pertunjukkan ini sangat hidup.


Andika Kristi
, walau ini pertama kalinya dia berperan sebagai aktor, keluwesan gerakan tubuh, suara yang lantang, serta ekpresi sewaktu ingin membunuh dan juga suara yang bagus membuatnya layak menjadi aktor malam itu, dan aku rasa dia sangat senang sekali bisa menunaikan pertunjukkan pertamanya sebagai aktor.

Musik yang dibawakan sangat sangat mendukung, team yg dipimpin oleh Christine Liwang, membuka suasana awal yang membuat penonton terhenyak dan terfokus untuk memulai acara ini.

 

Ivan Surya sebagai Director juga berhasil menyatukan semua unsur, dari akting, musik, lighting serta tarian menjadi satu kesatuan, dan ini pengalaman pertama sebagai Director. Aku merasakan peran besar tokoh ini pada saat itu sebelum acara di mulai , Ivan membangkitkan semangat para pemain utama, dengan refleksi singkat, bagaimana membangun karakter mereka agar mereka bisa berakting dengan baik, dengan menjelaskan lagi lebih detail dalam keadaan hening untuk para tokoh. Sehingga mereka lebih menghayati, dalam suasana hening tersebut Ivan memberikan gambaran peran peran mereka dengan kata kata yang menguatkan, dan membangkitkan percaya diri para pelakon utama.

Adinda Mutiara Sabila sebagai produser  perjuangannya menyatukan semua pihak, sampai juga memberitakan mengenai Ca Bau Kan ini sehingga sampai aku mengetahuinya, dan salutnya lagi dia seorang choreographer, jadi dalam drama musikal ini dia berperan ganda.

 

Dan seluruh Team NUANSA’11 yang tidak saya sebutkan disini, kalian lah yang berperan membuat pagelaran ini berjalan dengan baik, tanpa kalian tidak akan bisa seperti ini.

Busana yg digunakan menunjukkan karakter dari Indonesia, dengan menggunakan batik dan pakaian kebaya yang jadi ciri khas keadaan saat itu. Ini suatu nilai yang penting untuk membawa nama bangsa Indonesia karena pertunjukkan ini dilakukan dalam bahasa Inggris agar para penonton bisa mengerti dan mendalami alur cerita.

Pentas dilaksanakan di: Faith Centre for Performing Arts, ACJC pada 22 October 2011.

Berikut ini beberapa hasil obrolan dengan Adinda, Vanessa dan Andika

1.        Mengapa memilih Ca Bau Kan? Apakah karena kebudayaan Chinese di Singapore, sehingga ingin memperlihatkan bagaimana keadaan Chinese di Indonesia saat jaman penjajahan?

Ya, tentunya salah satu alasan kami memilih Ca Bau Kan adalah adanya appeal atas kebudayaan Cina yang ada di Singapura. Kami berpikir bahwa masyarakat Singapura pada umumnya sudah akrab dengan budaya ini, sehingga cerita ini menjadi mudah diterima dan menarik perhatian warga Singapura. Di samping itu, pada awalnya memang kami memiliki berbagai kandidat novel yang ingin kami adaptasi jalan ceritanya. Namun, pilihan jatuh ke Ca Bau Kan karena adanya perpaduan budaya Cina dan Betawi yang unik dan akan memberikan ruang kepada kami untuk berkreasi. Sebagai tambahan, budaya Indonesia yang gencar dipromosikan di Singapura sejauh ini adalah Budaya Aceh (melalui Tari Saman) dan Budaya Minang (melalui Tari Piring). Sehingga, diharapkan budaya Cina-Betawi yang diangkat oleh produksi kami akan menjadi angin segar di kalangan penikmat budaya Indonesia di Singapura.

2.        Vanessa Octavia, Dalam mendalami peran anda sebagai Tinung, bagaimana tokoh Tinung dimata anda?

Tinung itu orang yang sangat berbeda dengan saya yang bawel dan ngak bisa diam. Tapi walaupun begitu ternyata Tinung punya kemiripan dengan saya. Dari karakter seorang Tinung saya belajar mencintai dengan tulus dan sepenuh hati, belajar memaafkan walaupun apa yang orang tersebut lakukan adalah sesuatu yang tidak pantas dimaafkan.

3.        Andika Kristi, apakah ada “pelajaran hidup” yang anda rasakan sebagai Tan Peng Liang?

Pelajaran yang bisa saya ambil dari drama ini adalah bahwa setiap orang itu memiliki definisi keadilan masing-masing. Apa yang dianggap adil dari sudutpandang seseorang itu bukan merupakan sebuah keadilan yang bias diterima semua orang. Maka dari itu kita sebagai manusia yang memiliki cara berpikir dan keterbatasan masing-masing tidak seharusnya begitu saja mengadili orang lain

4.        Adinda Mutiara Sabila dan William Theodore Moningka, apa yang membuat kalian begitu tergerak untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia, dan apakah pesan kepada para student dan mahasiswa/i Indonesia?

Hidup di luar Indonesia, kami merasa bahwa sudah menjadi tanggung jawab kami sebagai duta bangsa untuk mempromosikan budaya Indonesia. Upaya melestarikan budaya ini telah dilaksanakan sejak 4 tahun lalu di NUS, dan kami sangatmerasa terhormat apabila kami diberikan kepercayaan untuk meneruskan tradisi ini. Pesan kami kepada para pelajar dan mahasiswa yang ada di Singapura adalah untuk menjaga warisan budaya ini dengan sebaik-baiknya, dan tentunya meneruskan perjuangannya di masa mendatang. Untuk mahasiswa NUS sendiri, kami menganggap NUANSA sebagai sebuah legacy yang sangat patut untukdiperjuangkan. Di tengah berita-berita tentang hiruk-pikuk politik Indonesia, kami berharap untuk menjadi sebuah berita yang mengharumkan nama bangsa.

5.        Dalam persiapan drama musikal ini, bagaimana pengumpulan dana untuk pementasan? Apakah ada kerja sama dengan pihak pariwisata dan kedutaan Indonesia?

Proses pengumpulan dana dikoordinir oleh Tim Marketig kami yang dipimpin oleh Dulfinch Anderson. Kami memohon dukungan dari berbagai perusahaan baik yang beroperasi di Singapura maupun di Indonesia, serta yayasan-yayasan dan instansi pemerintahan seperti KBRI Singapura. Kerja sama dengan pihak pariwisata akan tetap dipertimbangkan.

6.        Apakah terpikirkan untuk membuat suatu karya cerita dari NUANSA sendiri? Seperti kisah bagaimana para TKI di Singapore atau juga kisah para mahasiswa/I yang berjuang di Singapore untuk tetap bisa kuliah.

Hingga saat ini, kecenderungan yang ada adalah memilih cerita berdasarkan cerita rakyat atau karya sastra yang memiliki latar belakang budaya yang kental. Hal ini untuk memudahkan proses pemilihan aspek budaya yang ingin diperkenalkan pada setiap produksi NUANSA. Namun, tidak menutup kemungkinan jika NUANSA mendatang akan menggunakan pendekatan lain dalam memilih cerita yang akan diangkat. Adanya regenerasi dari panitia penyelenggara NUANSA boleh berarti ide membuat suatu karya cerita dari NUANSA sendiri tidak menjadi sesuatu yang mustahil.

7.        Bagaimana kelanjutan peran serta mahasiswa/wi setelah lulus dari NUS dalam kegiatan NUANSA ini ?

Alumni NUS dan alumni PINUS biasanya akan kembali mendukung acara ini dengan menonton dan mempromosikan NUANSA. Mereka yang memang memiliki kelebihan tertentu, biasanya akan kami minta bantuannya dalam penggarapan acara kami. Baik sekedar memberi saran dan masukan, atau menjadi mentor.

 

Selamat kepada seluruh Team member yang aku tidak sebutkan satu-satu disini, kalian telah membanggakan dan memperkenalkan kebudayaan Indonesia di Singapura, ingatlah kalian adalah pahlawan budaya, semoga pemerintah dalam hal ini mentri periwisata dan pendidikan serta kebudayaan melihat hal ini dan membantu untuk mendukung kegiatan-kegiatan seperti ini.

Adinda sang producer dan team sekali lagi selamat dan karya ini sungguh bagus…

Terus berkarya…..